| Bupati Mimika, Elthinus Omaleng – Jubi/Alex |
“Banyak ahli (termasuk PT. Freeport) yang katakan, kematian ikan itu karena fenomena alam. Tapi bagaimana mungkin ikan yang hidupnya di laut masuk ke sungai atau air tawar?” katanya kepada wartawan di Kota Jayapura, Jumat (29/4/2016).
Menurut Omaleng, jarak antara laut dengan sungai ujung tanggul barat sangat jauh, sehingga kalau dibilang matinya ikan disebabkan fenomena alam sulit dipahami dan tak masuk akal.
Pihaknya masih membentuk tim untuk mengetahui penyebab kematian ribuan ikan itu. Selain itu sampel air dan ikan dibawa ke Jakarta untuk diuji dan dicari tahu.
“Saya harap semua pihak bersabar karena sampel sudah di bawa ke Jakarta untuk diuji,” katanya.
Sebelumnya Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Papua, F.X. Mote mengatakan meskipun belum ada hasil terkait kejadian itu, pihaknya menduga kematian ribuan ikan dikarenakan limbah dari PT. Freeport Indonesia. Kemungkinan lainnya adalah tak adanya oksigen serta matinya plankton dan larva yang menjadi makanan utama ikan-ikan yang hidup di Sungai Amaima.
“Ini masih bersifat dugaan. Penyebab pastinya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium oleh tim yang sudah turun langsung untuk mengambil sampel,” kata Mote.
Ia pun meminta semua pihak tak buru-buru menunjuk satu lembaga tertentu sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas matinya ribuan ikan itu. Kejadian tersebut pernah terjadi di beberapa tempat seperti Jakarta, Sumatera dan Jepang.
“Lalu memang ada juga jenis ikan di laut dan perairan umum yang memiliki lokasi untuk hidup berbeda-beda. Ada yang hidup di tekanan dan suhu tertentu, sehingga bisa dikatakan mereka memiliki tingkatan hidup yang berbeda-beda,” katanya. (MP/tabloidjubi.com)
0 komentar:
Post a Comment