Oleh Titus Ruban.
| Seorang Pembeli dan mama-mama pengrajin Noken – Jubi/Titus Ruban |
Nabire, – Instruksi Gubernur Papua No.3 Tahun 2014 tentang Gerakan Melestarikan Papua dan Budaya Lokal, yang mana salah satunya adalah Noken telah ditindaklanjuti oleh Pemkab Nabire dengan menetapkan Hari Kamis sebagai Hari Wajib Noken. Namun pengrajin Noken masih jauh dari perhatian pemerintah.
Seorang pengrajin sekaligus penjual Noken Mama Marice Kotouki, kepada Jubi menuturkan, sebelum berjualan di tepi jalan, ia berjualan di dalam pasar.
“Tapi sudah tidak ada tempat lagi, jadi kami keluar di sini. Ya terpaksa harus jualan di atas trotoar ini karena tidak ada tempat,” kata Marice di Nabire, Kamis (9/6/2016).
Selama berjualan Marice mengaku tak pernah mendapat bantuan dari pemerintah.
“Pernah itu ada dari kantor Pemberdayaan Perempuan datang minta kami buat Noken dan mereka mau beli tapi belum datang lagi. Tapi kami cuma harap pemerintah tolong perhatikan kami. Kami tidak minta uang, tapi kami hanya minta kalau ada tempat buat bisa jualan,” katanya.
Di tempat yang sama seorang pembeli Noken, Kris Nuboba mengatakan ia membeli noken karena ada Instruksi Gubernur. Ia menilai kebijakan ini sangat tepat karena untuk melestarikan Noken yang identik dengan budaya orang Papua.
“Seharusnya pemerintah bisa mencarikan suatu tempat yang layak, bila perlu ada bangunan parmanen bagi mereka. Bila perlu ada suatu badan ataupun koperasi yang bisa mengakomodir mereka, agar betul-betul bisa memberdayakan masyarakat asli Papua,” katanya. ( mp/tabloidjubi.com)
0 komentar:
Post a Comment