| Mahasiswa asal Papua di Jawa usai menggelar diskusi -Dok Jubi. |
Semarang-, Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Semarang-Salatiga menuntut agar penuntasan kasus pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM) di daerah asalnya, Papua. Tuntutan itu disampaikan bertepatan peringatan hari HAM sedunia, 10 Desember 2017 kemarin.
“Di Papua kondisi perlindungan HAM semakin memburuk dari tahun ke tahun, kami minta segera dituntaskan dengan pengusutan secara transparan dan jelas,” kata Ney Sobolim, perwakilan mahasiswa asal Papua di Semarang, Minggu (10/12/2017).
Ia menyebutkan sejak perebutan wilayah Papua dan dikeluarkan TRIKORA oleh Presiden RI Soekarno, hingga dianeksasi kedalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), kejahatan kemanusiaan terus terjadi.
“Padahal sebelumnya rakyat Papua hidup aman dan damai dengan berkebun, meramu di tanahnya sendiri,’ kata ney menjelaskan.
Lebih ironis kondisi Papua di bawah rezim Soeharto didukung kapitalis global, terutama Amerika Serikat yang mengeksploitasi sumber daya alam (SDA). Hal itu dibuktikan kontrak karya PT Freeport tahun 1967 yang kemudian melegitimasi kejahatan kemanusiaan dengan menjadikan wilayah Papua sebagai Daerah Operasi Militer besar-besaran 1970-an hingga 1990-an. Akibatnya ribuan rakyat Papua terbunuh dan ribuan lainnya mengungsi ke Papua Nugini.
Dari semua pelanggaran HAM yang dilakukan militer tidak diselesaikan oleh negara, ia menyebut beberapa pelanggaran HAM berat lain seperti Biak Berdarah pada 1998, Wasior Berdara 2001, Wamena Berdarah 2003, Abepura Berdarah 2006.
“Termasuk beberapa tokoh Papua di antaranya Arnold Clemen Ap pada 1982, Thom Wainggai 1996, Theys H. Eluay 2001, Musa Mako Tabuni 2012, dan lainnya,” katanya.
Yang terbaru di bawah rezim Jokowi-JK, pada 8 Desember 2017, 8 Siswa SMA di Paniai ditembak anggota TNI, lima di antaranya meninggal, 1 orang di Deiyai ditembak pada 2017, 1 orang di Merauke meninggal akibat dianiaya oleh anggota TNI pada 2017.
Selain mengusut pelanggaran HAM, mahasiswa juga minta agar militer TNI dan Polri Organik dan Non-organik diatrik dari seluruh Tanah Papua. (*)
Diambil dari www.tabloidjubi.com
0 komentar:
Post a Comment