| Mahasiswa yang melakukan aksi demonstrasi menuntut Rektor Unmus, Philipus Betaubun turun dari jabatannya. Jubi/Frans L Kobun |
Merauke, – Puluhan mahasiswa dari organisasi kemahasiswaan
seperti PMKRI, GMKI dan HMI melakukan aksi demonstrasi mendesak kepada
Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) agar
mencopot jabatan Philipus Betaubun sebagai Rektor Universitas Negeri
(Unmus) Merauke,karena diduga melakukan banyak pelanggaran.
Para mahasiswa melakukan aksi long march mulai dari Tugu Pepera dan
bergerak menuju ke Gedung Negara, Selasa (2/5/201). Mereka melakukan
orasi dan membawa sejumlah pamflet yang isinya mendesak Philipus
Betaubun harus dilengserkan. Kurang lebih setengah jam mahasiswa
melakukan orasi dan ingin bertemu Bupati Merauke, Frederikus Gebze,
namun tidak berada di tempat.
Dari situ, para mahasiswa bergerak menuju ke Kantor Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah (DPRD), Polres Merauke hingga terakhir di Unmus. Ketika
berada di kampus tersebut, para demonstran tidak diizinkan masuk.
Sehingga hanya melakukan orasi di jalan. Aparat keamanan dari Polres
Merauke melakukan pengamanan ketat terhadap aksi yang dilakukan.
Juru bicara para demonstran, Jefri Gultom mengatakan, berdasarkan
data yang dimiliki, terdapat dua puluh enam pelanggaran dilakukan
Philipus Betaubun. Dari semua itu, dua menjadi skala prioritas dan telah
dilaporkan ke Polres Merauke serta Kejaksaan Negeri (Kejari) setempat.
Dua kasus tersebut yakni dugaan pemalsuan dokumen Mahkamah Konstitusi
(MK) video conference ilmu hukum serta dugaan korupsi bidik misi yang
telah dilaporkan. Hanya saja, hingga kini belum ada tindaklanjutnya.
Karena beberapa kasus tersebut tak kunjung ditindaklanjuti, mahasiswa
yang tergabung dalam beberapa organisasi itu, melakukan aksi
demonstrasi.
Rektor Unmus, Philipus Betaubun yang hendak dikonfirmasi sejumlah
wartawan sekitar pukul 12.00 WIT, sedang tidak berada di tempat. Menurut
salah seorang stafnya, rektor masih berada di luar daerah dan tidak
berada di tempat.
“Kami juga belum tahu, kapan akan pulang,” tutur stafnya itu.
Para wartawan meminta bisa bertemu salah satu wakil rektor agar
memberikan keterangan pers terkait aksi demonstrasi mahasiswa, namun
gagal juga. Para awak media sempat menunggu beberapa menit di salah
satu ruangan di rektorat. Setelah seorang sekretaris pribadi wakil
rektor menyampaikan maksud itu, namun jawabannya tidak bisa diganggu.
Karena sedang ada rapat penting.
“Saya kira kita sudah berupaya untuk meminta klarifikasi dari pihak Unmus, namun tak ada respon. Sehingga tetap dinaikkan saja. Karena memang tak ada yang ingin bicara,” ujar salah seorang wartawan, Emanuel Riberu. (mp/tabloidjubi.com)
0 komentar:
Post a Comment