Pers Release Komite Kota Aliansi Mahasiswa Papua (AMP)
Yogyakarta, 12 Februari 2014
“Hak
Menentukan Nasib Sendiri Solusi Demokratis Bagi Rakyat Papua”
Berbagai konflik yang menelan ratusan ribu nyawa orang Papua sejak
Trikora dikumandankan oleh Ir Seokarno pada 19 Desemebr 1961 di Yogyakarta
hingga saat ini tidak terlepas dari Status Politik Papua yang tidak jelas dan
tidak terselesaikan sesuai Instruksi Roma Agreement tahun 1962 setelah New York Agreement, dimana Pemerintah
Indonesia diberi tugas untuk mempersiapkan Papua selama 25 tahun dan kemudian
dikembalikan kepada PBB untuk melaluka Act of free Choice atau self
determination for West Papua. Dan dan pelaksanaan PEPERA yang Cacat Hukum dan tak
bermoral.
Rezim militer Orde Baru Soeharto menjadikan Papua sebagai daerah
operasi militer (DOM) sejak 1977-1998, terutama Angkatan Darat (AD) hingga era
reformasi ini terlihat tidak berubah. Kesan seperti itu sangat terasa karena
instansi militer dan para petinggi militer di Kodam dan jajarannya mendominasi
rana politik dan jalannya pemerintahan di Papua. Cengkraman Militer atas Papua
kian kuat karena adanya dwifungsi ABRI dan dijadikannya Papua sebagai Daerah
Operasi Militer (DOM) tersembunyi pasca reformasi. Dengan
semangat berdwifungsi, obsesi utama semua pimpinan militer Indonesia, khususnya
di jajaran Kodam dan Polda Papua alah menghancurkan TPN-OPM. Obsesi penghancuran TNP-OPM itu juga
dimotivasi oleh kepentingan ekonomi dan politik. Secara politik petinggi
Militer, seperti Pangdam, Danrem, dan Dandim. Secara ekonomi, semua perusahaan
besar di Papua dikategorikan sebagai objek vital nasional. Artinya
perusahaan-perusahaan itu berada di bawah naungan militer untuk keamanannya.
Untuk itu, perusahaan-perusahaan harus menyetor sejumlah uang.
Kekejaman militer (TNI-Polri)
Indonesia terus berlanjut hingga saat ini, pembunuhan terhadap Theis Eluay,
Mako Tabuni, Huber Mabel serta kasus Biak Berdarah, Abepura berdarah, Wamena
Berdarah dan kasus-kasus kejahatan terhadap kemanusiaan tidak tuntas
diselesaikan oleh Indonesia.
Di awal tahun ini, Peristiwa
penembakan, penyisiran dan penangkapan kembali terjadi di Puncak Jaya, Papua yang berawal dari perampasan delapan
pucuk senjata milik polisi pada 4 Januari 2014
oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat(TPN-PB). Aksi balasan dan
pengejaran yang dilakukan oleh TNI dan Polri menewaskan 1 orang anggota TPN-PB
atas nama Endenak Telenggen, 1 Orang anggota TNI atas nama Pratu Sugianto .
penyisiran berlanjut, 1 Pelajar SMA atas
nama Tenius Telenggen ditangkap dan penyadapan Gereja saat warga sedang Ibadah hari minggu 27 Januari lalu. Akibat dari penyisiran Militer di Distrik
Kulirik, Puncak Jaya, warga Kulirik Menggungsi ke hutan hingga saat ini memasuki pertengahan minggu keempat. Peristiwa yang sama terjadi di
Sasawan, Kepulauan Yapen, Papua, Sabtu (1/2) pagi yang menewaskan 1 orang
anggota TPN-PB dan 10 orang lainnya ditahan polisi. akibat penyisiran dan dominasi Militer di distrik
Sasawan, warga mengungsi. Hingga saat ini warga masih ketakutan dan akitivitas
tidak normal.
Secara
ekonomi, Eksploitasi oleh perusahaan ilegal dimana-mana di seluruh Papua, di sepanjang Sungai
Degeuwo di Kabupaten Paniai, Penambangan illegal sudah berlangsung selama 14
tahun yang merugikan masyakrat adat maupun pemerintah Kabupaten Paniai , Nabire,
dan Provinsi Papua. Masih banyak perusahaan illegal di Papua termasuk PT
Freepot Indonesia dimana penanda-tangan kontrak kerja dilakukan oleh Pemerintah
Indoensia dengan AS saat status Papua belum tergabung dalan NKRI.
Berdasarkan Aksi Militer yang Korbankan Masyarakat Papua
( korban Nyawa, Fisik, Psikologis dan
korban Lingkungan) itu, Komite kota Aliansi
Mahasiswa Papua (AMP) Yogyakarta menuntut kepada Pemerintah Indonesia untuk
segerah:
1.
.Hentikan Penyisiran Brutal TNI-Polri Terhadap Warga Sipil
Papua dan Tarik Militer ( TNI-Polri) Organik dan Nonorganik Dari Seluruh Tanah
Papua.
2.
Hentikan Eksploitasi dan Tutup Seluruh Perusahaan Milik Kaum
Imperialis dan Kapitalis; Freeport, BP, LNG Tanggu, Corindo, Medco, Antam dll
3.
Berikan Kebebasan Hak Menentukan Nasib Sendiri Bagi Rakyat
Papua Barat Sebagai Solusi Demokratis
Demikian pernyataan sikap ini kami
buat sebagai bentuk perlawanan atas penjajahan, penindasan dan penghisapan oleh
Indonesia dan tuannya Imperialisme atas rakyat Papua.
Komite
Kota Aliansi Mahasiswa Papua ( AMP) Yogyakarta, 12 Februari 2014
Telius
Yikwa
Sekretarsi
AMP Yogyakarta
0 komentar:
Post a Comment